Social Icons

Pages

Featured Posts

Selasa, 24 Mei 2016

Scrapframe: Happy 1st Anniversary Arga & Aga

Assalamu’alaikum...

Hallo, maaf baru sempat posting. Belakangan saya sedang sibuk persiapan ujian komprehensif dan penyusunan skripsi. Alhamdulillah tadi siang sudah selesai penelitian dan ujian komprehensif In Shaa Allah akan dilaksanakan tanggal 30 Mei nanti. Semoga bisa lulus dan berjalan lancar. Aamiin.

Pada posting kali ini saya ingin meng-share tentang scrapframe atau ada juga yang menyebutnya frame pop up, bagi yang belum tahu silakan searching sendiri di google ya :P. Sudah tahu? Ayo lanjut, jadi scrapframe ini saya buat khusus untuk pacar tercinta, Fian Mulyaga.


Bagi kalian yang berniat memberikan kado yang anti mainstream buat pasangan saat anniversary, scrapframe bisa jadi pilihan. Di instagram banyak kok yang jual dan harganya di atas 300 ribuan semua. Tapi gak ada salahnya jika kita ingin berkreasi membuat scrapframe sendiri. Kalo menurut saya, kado yang dibuat dengan tangan sendiri akan lebih berkesan buat do’i.

Seperti kata Bang Raditya Dika di VLOGnya, “Gue lebih suka sesuatu yang kalian kasih ke gue bersifat personal, gak perlu mahal. Cukup yang sederhana saja, apalagi buatan kalian sendiri. Jadi gue bisa membayangkan bagaimana kalian meluangkan waktu kalian untuk membuat karya itu.” Kira-kira seperti itu kalimat yang selalu terlontar di segmen Buka-bukaan VLOGnya Bang Raditnya Dika.

Merujuk dari pendapat tersebut, maka saya mencoba untuk membuat suatu yang sekiranya berbeda dari orang kebanyakan. Membuat video, edit foto dsb menurut saya sudah sangat mainstream dan kurang berkesan karena sudah sering saya lakukan. Maka dari itu saya memutuskan untuk membuat scrapframe, dalam membuat scrapframe memerlukan perencanaan yang matang, dikarenakan akan memakan banyak waktu, khususnya bagi pemula. Apalagi bagi saya, selain pemula, saya juga sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ujian komprehensif saat membuat scrapframe ini. Jadi, sangat tidak dianjurkan jika kalian sedang tidak memiliki banyak waktu. Bahkan di salah satu blog yang sharing tentang scrapframe, perencanaannya 3 bulan sebelum hari H. Gokil bukan. Hehe.

Langsung saja, berikut alat-alat yang saya gunakan:
1. Desain dan ornamen scrapframe
2. Frame 3D
3. Gunting dan Cutter
4. Styrofoam
5. Isolasi bolak-balik
6. Lem UHU
7. Penggaris

Berikut langkah-langkah dalam membuat scrapframe (versi argaharsa):

1. Buat desain scrapframe

Sebelum membuat desain, terlebih dahulu kita tentukan temanya. Untuk kali ini saya memilih tema Korea dan Seoul yaitu negara dan kota kesukaan pacar saya. Gambar saya ambil dari google, kemudian saya edit menggunakan CorelDraw. Perjuangan banget ngedesainnya, sampai-sampai laptop saya ngehang dan terpaksa me-restart dengan menekan tombol power secara paksa. Saya memerlukan 3 hari untuk membuat desain (10-12 Mei 2016). Maklum, pemula. Hehe.
Desain scrapframe:


2. Buat desain ornamen scrapframe

Untuk ornamen scrapframe, saya mencari inspirasi dari contoh scrapframe yang ada di google. Sama seperti desain scrapframe, ornamen scrapframe saya edit dengan menggunakan CorelDraw. Memotong-motong ornamen dan memisahkan ke bagian layout tersendiri memerlukan waktu beberapa jam (12 Mei 2016).
Desain ornamen scrapframe:


*NB: Untuk poin 1 dan 2 di atas, kalian memerlukan koneksi internet dan kuota yang banyak. Itulah kenapa kemarin saya boros paket internet. Hehe.

3. Cetak desain scrapframe dan ornamen scrapframe yang sudah kita buat

Desain scrapframe dan ornamen scrapframe saya cetak di studio foto dekat Gang Stanjung area kampus Unnes. Di dekatnya cireng langganannya Aga. Pencetakan foto memerlukan waktu 1 hari (12-13 Mei 2016). Agak malu juga waktu bilang sama mas-mas yang nyetakin. Hehe.

Hasil cetak scrapframe:


Hasil cetak ornamen scrapframe:


4. Potong-potong ornamen scrapframe-nya

Pemotongan ornamen scrapframe harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Hati-hati dalam menggunakan cutter, kalau salah tangan kita bisa jadi korban. Hehe.

Waktu yang perlukan untuk memotong-motong ornamen scrapframe adalah setengah hari (14 Mei 2016).
Saya mulai pemotongan dari jam 11.00 dan baru selesai jam 18.00. Proses pemotongan sempat terhenti ketika saya mengantar do’i ke Krapyak. Saya hanya istirahat ketika akan sholat dan mandi saja. Kamar saya jadi seperti kapal pecah waktu melakukan proses pemotongan ornamen dan penempelan. Wkwk.

Hasil pemotongan ornamen scrapframe:


5. Tempelkan

Menempelkan ornamen scrapframe harus jeli, karena akan berdampak pada hasil scrapframe yang kita buat. Penempelan bisa dilakukan dengan menggunakan isolasi bolak-balik dan styrofoam. Jadi urutannya: isolasi bolak-balik, styrofoam, lalu isolasi bolak-balik lagi. Bisa juga dikombinasikan dengan lem UHU. Pemasangan dilakukan jam 18.30 sampai 23.00 pada hari yang sama saat pemotongan ornamen. Terlihat sederhana tapi pembuatannya sulit juga, saat penempelan selesai saya baru ingat bahwa saya belum makan malam.

Hasil penempelan:


6. Siapkan frame 3D untuk bingkai scrapframe

Perlu diketahui, frame 3D berbeda dengan bingkai foto biasa. Frame 3D memiliki kedalaman sehingga kita dapat mengkreasikan scrapframe agar terlihat menjorok ke dalam. Agak susah mencari frame 3D di sekitar kampus Unnes. Saya sudah keliling dari Banaran-Sekaran-Patemon, tidak ada satupun toko buku maupun studio foto/figura yang menjual frame 3D. Saya mendapatkan frame 3D ini dengan searching di internet dan kemudian menemukan informasi bahwa di Tembalang ada yang menjual frame 3D. Itupun harus memesan dulu karena saya pesan di pembuatnya langsung dan memerlukan waktu 4 hari (12-16 Mei 2016).

Saya mengambil frame 3D tanggal 16 Mei setelah sholat Maghrib, berhubung saya tidak tahu alamatnya maka saya minta tolong ditemani oleh sahabat saya Ragil yang kuliah di Undip. Kenapa saya ke sana Maghrib? Karena paginya saya harus ke kampus, frame 3D baru jadi sore hari dan Ragilpun ada waktunya setelah maghrib. Jadi saya putuskan untuk menginap di kosnya Ragil sambil membawa buku-buku Akuntansi Keuangan. Mau langsung pulang rawan begal, jadi demi keselamatan juga mending nginep di tempatnya Ragil sekalian main. Jangan marah ya Ga. Hehe.

7. Pasang scrapframe yang sudah jadi ke dalam frame 3D

Pasang scrapframe yang sudah kita buat tadi ke dalam frame 3D dan kemudian jadilah scrapframe buatan sendiri. Ragil sahabat saya katanya terkesima melihat hasilnya, katanya so sweet banget. Haha.
Hasil jadi scrapframe:


Agar scrapframe-nya tidak rusak, saya membawanya dengan tas plastik yang biasa saya pakai untuk membawa berkas-berkas skripsi. Selain itu juga saya tahan dengan potongan styrofoam untuk menjaga bentuk dari scrapframe sebelum dipihdahkan ke frame 3D.
Pengamanan scrapframe 1:


Pengamanan scrapframe 2:



Tidak lupa saya membeli tas pop up yang sesuai untuk mengemas scrapframe, saya membeli tas ini di daerah Undip dengan diantar oleh sahabat saya, Ragil.

Tas pop up:


Akhirnya, setelah dikerjakan selama 6 hari berturut-turut secara intens scrapframe ini jadi juga. Semoga nantinya kado ini bisa berkesan buat Aga meskipun hasilnya jelek. Postingan ini saya posting sekarang karena mungkin di waktu mendatang saya tidak sempat memostingnya. Semoga saja Aga tidak membuka blog ini biar surprise, blog ini memang jarang banget dibuka dan sepi pengunjung. Baik oleh saya maupun orang lain. Jadi saya tidak khawatir, saya juga bingung sedang sharing sama siapa. Wkwk

Setelah ini saya akan fokus untuk belajar ujian komprehensif dan lanjut mengerjakan skripsi. Pada saat hari H In Shaa Allah saya akan menunjukkan postingan ini ke Aga biar dia tahu proses pembuatannya. Sekian sharing kali ini, semoga dapat bermanfaat. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum.

Referensi:

http://stringcassette.blogspot.com

Baca Selengkapnya...

Selasa, 03 Maret 2015

Gigi Susu yang Tertinggal

Hi my blog, sudah lama menengokin blog. Semester kemarin kegiatan saya sibuk banget jadi gak sempat buat ngurus blog. Dulu rencananya mau diisi materi atau tugas-tugas kuliah malah jadi blog gak jelas kaya gini. Haha. Biarin lah, lagian siapa juga yang mau lihat-lihat blog yang aneh ini.

Semester 6 ini adalah semester akhir dimana masih ada kegiatan ngampus (mata kuliah materi), agak sayang rasanya kok cepat banget tiba-tiba waktunya sudah mendekati PPL, KKN, dan skripsi. Perasaan dulu baru masuk kuliah deh. Bakal kangen masa-masa kuliah bareng teman-teman.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas disini. Postingan kali ini akan membahas tentang gigi. Kok gigi? Ya, saya baru sadar betapa pentingnya periksa ke dokter gigi. Berawal dari gigi kecil bagian depan saya yang patah, saya konsultasi ke dokter gigi di sekitar Unnes Semarang.

Setibanya di tempat tersebut saya disambut dengan dua orang dokter muda berhijab, begitu duduk dikursi periksa Bu Dokter langsung bertanya, “Sudah bengkak begitu ya?”. Mungkin gara-gara pipi saya yang chubby akibat libur panjang semester. Haha.

Setelah saya beri penjelasan, Bu Dokter memeriksa gigi saya. Kata Bu Dokter, “Ini gigimu kelebihan dua Dek.” Bu Dokter menyarankan untuk jangan memansang gigi palsu karena tidak efektif. Beliau lebih menyarankan untuk mencabut 2 gigi saya yang berukuran kecil lalu kemudian memasang ortho (kawat gigi) agar dapat merapatkan gigi supaya tidak renggang. Memang, ada 2 gigi susu yang seharusnya sudah diganti dengan gigi baru. Gigi yang seharusnya menggantikan gigi susu justru tumbuh disamping gigi susu dan saling berbenturan. Aneh kan.

Dari kecil, saya memang jarang sekali ke dokter gigi. Kalau gigi mau copot biasanya dicabut sendiri aja, kecuali kalau menambal gigi baru ke dokter gigi. Masa mau menambal sendiri pakai semen? Wkwkwk. Dokter gigi yang di Tegal yang merupakan Ibu dari teman sekelas SMA juga pernah bilang masalah gigi susu, tapi saya menunda-nunda terus. Karena kondisinya sedang mau UN dan keberadaan gigi susu tersebut tidak mempengaruhi kenyamanan.

Kembali lagi ke ruang praktek dokter, biaya yang harus dibayar adalah 2,5 juta rupiah. Sayapun menyetujuinya walaupun sempat berpikir sejenak karena cukup menguras tabungan. Bu Dokter bertanya, “Mau dicabut sekarang?”

Saya tidak langsung mengiyakan, dan bertanya balik. “Itu setelah dicabut langsung dipasang ortho (kawat gigi) atau bagaimana Dok?”.
Bu Dokter 1: “Gak Dek, giginya dicabut dulu terus dibiarkan 2 hari. Setelah itu baru dipasang orthonya.”
Saya: “Waduh, brarti kelihatan ompong ya Dok?”
Bu Dokter 1: “Ya, kalau belum dipasang kawat ya kelihatan Dek. Tapi kalau sudah dipasang ya gak terlalu kelihatan.”
Saya: “Kalau begitu, mending dicabutnya Hari Sabtu saja Dok biar Hari Senin pagi orthonya langsung dipasang. Hehe.” Kebetulan Hari Senin saya kuliah jam 1 siang, jadi aman.
Bu Dokter 2: “Wah, pinter milih harinya biar gak malu ya Dek berangkat kuliahnya.”
Saya: “Iya Bu. Hehe.”
Bu Dokter 1: “ Ya sudah, hari Sabtu pagi ke sini lagi saja. Nanti gigimu yang 2 itu dicabut. Bilang orang tua dulu.”

Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Bu Dokter mengenai jadwal kontrol, biaya dan sebagainya, Bu Dokter membuatkan kartu dan sayapun pamit pulang.

Prosesnya ternyata ribet juga, 2 gigi harus dicabut dan didiamkan 2 hari terlebih dahulu baru kemudian dipasangi ortho. Berarti saya harus merelakan gigi saya terlihat ompong sementara. Katanya sih gigi baru bisa terlihat rapat paling cepat 6 bulan dan paling lambat 1 tahun. Dan juga harus merogoh kocek cukup dalam karena mengeluarkan biaya sebesar 2,5 juta rupiah. Ditambah saya harus melakukan kontrol tiap bulan dengan biaya tambahan tiap kontrol. Sepertinya kartu askes dari orang tua gak bisa dipakai untuk masalah ini. Lumayan juga sih, tapi kalau dibandingkan sama teman kos yang implant satu gigi bagian depan dan menghabiskan 7 juta dan teman yang pasang ortho (kawat gigi) atas bawah menghabiskan 5 juta rupiah saya masih sedikit beruntung.

Dari pengamatan saya, tempat dokter tersebut bukan tempat abal-abal. Karena disana jelas yang menangani dokter gigi, bukan tukang gigi. Dan di tempat yang abal-abal biaya yang ditawarkan biasanya di bawah atau sekitar 1 juta rupiah. Malah waktu saya bertanya kalau pasang ortho (kawat gigi) atas bawah biayanya 4 juta rupiah. Tapi kebutuhan masih banyak, awal semester belum beli buku dan lain-lain. Dan saya memutuskan hanya di atasnya saja yang dipasang. Lagipula gigi bagian bawah tidak ada masalah dan lumayan tidak berantakan. Hehe.

Tinggal siap-siap bersabar selama 1 tahun dengan gigi ompong berkawat sampai giginya rata. Untungnya gigi berkawat sudah tidak trend lagi sekarang, bisa-bisa dikira anak alay. Padahal ini untuk perawatan gigi. Hahahahaha.

Sekian.

Baca Selengkapnya...

Selasa, 09 Juli 2013

LDR (Laskar Dian Ratna)

Sekarang ini adalah hari-hari terakhirku ngekos di Dian Ratna, kosan yang penuh kenangan . Ada kebersamaan, kegembiraan, kegalauan, kesuraman, dan kegokilan. Masih aku ingat rutinitas sewaktu awal-awal ngekos di sini adalah maen kartu remi sampe tengah malam dengan hukuman coretan bedak yang dicampur air bagi yang kalah .

Kegokilan

Bedaknya dari siapa? Karena kos ini kos campur (ada cowo, cewe dan maho , mahonya bercanda), maka sudah jelas bedaknya dapat minta dari temen kos cewe. Yang jelas bukan saya yang minta, terus terang saya gak akrab dengan penghuni cewe .


Selain main remi, awal-awal kami juga rajin sholat maghrib berjamaah dan ngaji yasin tiap malam Jumat di Masjid terdekat . Kebiasaan tersebut masih kami lakukan meskipun intensitasnya menurun drastis . Yang paling saya ingat juga adalah ketika kami satu kos sama-sama kena diare , kami memang sering makan makanan dengan menu yang sama.

Ketika ada salah satu dari kami yang akan membeli makan, kebiasaannya adalah anak-anak yang lain akan minta titip untuk dibelikan dan setelah makanan sampai kami berkumpul di satu kamar dan makan bersama-sama. Waktu itu lagi ngetrend-ngetrendnya yang namanya penyet, gila satu kos demennya pada nitip (saya termasuk). Untungnya kami bergantian dengan senang hati membelikan makan dengan berbagai kondisi cuaca .

Setiap ada penemuan warung makan murah dengan rasa yang enak dan porsi jumbo pasti informasi ini akan langsung menyebar dengan dahsyatnya ke antero jagat Dian Ratna, begitupun dengan tempat laundry yang sudah menjadi langganan anak-anak Dian Ratna. Bahkan sampai pemiliknya hafal betul dengan nama kami masing-masing karena sudah langganan .

Kabinet Dian Ratna Bertaqwa

Jumlah kamar di Dian Ratna ada sekitar 60an kamar, dan bisa di golongkan menjadi 3 kelompok yaitu Dian Ratna Depan (penghuninya cewe), Dian Ratna Tengah (penghuninya cowo termasuk saya), dan Dian Ratna Belakang. Kami sempat iseng-iseng membuat kabinet “Dian Ratna Bertaqwa” di bawah kepemimpinan Didi dan Rama, keduanya adalah anak Hukum. Ada pembagian jabatan, kebetulan saya jadi Menkokesra. Semoga bisa jadi Menkokesra betulan, Aamiin..

Kebersamaan yang kami lakukan bukan hanya itu saja, kami sering bertukar kamar atau tidur bukan di kamar milik sendiri melainkan di kamar sebelah. Malah ada teman kos yang tidurnya pindah-pindah sambil bawa bantal dan berjejer kaya ikan pepes. Satu lagi yang lucu, kebiasaan temen kos kalau tidur pintunya tidak ditutup .

Lucunya waktu awal-awal, saya pernah terbangun tengah malam karena mendengar suara aneh . Ternyata suara itu berasal dari ringtone handphone yang menggunakan suara mba kunti dan perempuan menangis. Tengah malam anak-anak iseng menakut-nakuti Dian Ratna Depan (penghuni cewe) dengan suara tersebut. Parahnya sampai ada penghuni cewe yang teriak histeris dan menangis waktu itu.

Kegiatan Tengah Malam

Pernah suatu ketika kami nyuci motor bersama-sama pada waktu tengah malam. Berasa Dian Ratna jadi tempat cuci motor mendadak. Kalau perkuliahan sedang banyak libur kami akan futsal bareng, baik itu di lapangan FIS maupun di tempat futsal . Selain itu, kami juga suka bertanding PES. Game bola yang merupakan game favoritnya mahasiswa. Siang sampai malam terdengar suara teriakan-teriakan dari teman kos yang sedang bermain PES.

Anak DRB (Dian Ratna Belakang) juga tidak kalah gokil, mereka pernah karaokean pake speaker gede tengah malam. Lagunya lagu dangdut, semoga mereka yang terbaring di tanah tidak terganggu dengan ulah kami. Secara geografis Dian Ratna berada di sebelah kuburan dan memiliki iklim mistis , meskipun tidak terlalu terasa bagi orang awam. Anak DRB juga membentuk team futsal dengan nama DRB FC yang pernah meminjamkan pemainnya untuk romel P. AKT. C saat mengikuti Piala Dekan dan berhasil menembus semi final .

Kejadian yang paling koplak di awal tahun lalu kami pernah menyantap si bohay tengahmalam(baca : entok nyasar) bersama-sama. Ceritanya ada di sini. Kemudian pintu kamar yang kuncinya menggunakan gembok pun pernah menjadi objek keisengan kami. Suatu pagi hampir semua pintu di kunci dengan mengikatkan sedotan di lubang untuk gembok. Saya baru bisa keluar jam 6 pagi setelah 30 menit menghubungi teman-teman kos yang lain dan ternyata mereka juga terkunci. Bahkan gagang pintu penunggu kos (mas supri dan mas lono) juga diikat dengan kabel kawat, entah siapa yang lagi kumat waktu itu .

Dian Ratna bagaikan kosan yang tidak pernah tidur, dari malam hingga pagi terdengar samar-samar suara lagu atau sholawat entah dari kamar yang mana. Meskipun terkadang lagunya hanya satu dan berulang dari malam sampai pagi .

Tempat Persinggahan

Lokasi kos saya yang sangat dekat dengan kampus membuat kamarku sering jadi tempat persinggahan saya dan teman-teman ketika akan menunggu rentan waktu pada jam kuliah berikutnya. 19 dari 20 orang teman serombel cowo pernah singgah di sini dan ada beberapa yang pernah menginap. Tentunya tidak sekaligus, tidak mungkin kamar sekecil ini dimasuki banyak orang pagi .

Kini semuanya akan menjadi kenangan seiring dengan berjalannya waktu. Sebagian besar anak Dian Ratna Tengah memutuskan untuk pindah kos semester depan, begitu pula dengan saya. Semoga dengan hijrahnya kami dari Dian Ratna silaturahim diantara kami tidak terputus . Dan nasib buruk ku disemester satu yang membuat galau tingkat nasional tidak terulang di tempat kos yang baru .

Berhubung kami bukan orang narsis, berikut saya tampilkan beberapa foto di sudut-sudut kosan Dian Ratna .

1. Maho room
Spoiler for Maho room:

Ini buah karya salah satu teman kos. Kamar ini dihuni oleh Bapak Presiden Dian Ratna. Inspirasinya mungkin dari emot maho kaskus .


2. Kamar mayat
Spoiler for Kamar mayat:

Kamar ini dihuni Bapak Wapres Dian Ratna .


3. Arga caem
Spoiler for Arga caem:

Ini adalah bentuk pengakuan dari teman kos bahwa saya memang caem , sumpah bukan saya yang nulis. Saya tidak pernah nyoret-nyoret tembok kosan. Tulisannya pake kapur/tipe-X jadi kurang kelihatan di kamera. Kalau coret-coret pintu kos sih pernah .


4. Kamar Hanif
Spoiler for Kamar Hanip:

Berasa di mall kali ada petunjuknya .


5. Cowo versus cewe
Cowo versus cewe:

Maksudnya apa woy ? Mau balapan mandi ? Cowo lah yang menang .


6. Widi Viera
Spoiler for Widi Viera:

Wah, kalau Mbak Widi Viera ngekos disini beneran pasti anak-anak gak pada pindah tuh .


7. Plat AD dilarang parkir
Plat AD dilarang parkir:

Mungkin tulisannya kurang jelas karena difoto dari jauh, waktu foto iseng-iseng doang. .


Tadi pagi terlihat Mas Lono dan Mas Supri melakukan pengecatan tembok kosan. Jadi bersih lagi deh ini kosan dari coretan tangan-tangan jahil . Proses pindahan ke kosan yang baru sudah mulai dilakukan . Tapi saya masih akan tidur di kos ini sampai pulang ke Tegal hari Jumat mendatang .

Baca Selengkapnya...