Social Icons

Pages

Selasa, 03 Maret 2015

Gigi Susu yang Tertinggal

Hi my blog, sudah lama menengokin blog. Semester kemarin kegiatan saya sibuk banget jadi gak sempat buat ngurus blog. Dulu rencananya mau diisi materi atau tugas-tugas kuliah malah jadi blog gak jelas kaya gini. Haha. Biarin lah, lagian siapa juga yang mau lihat-lihat blog yang aneh ini.

Semester 6 ini adalah semester akhir dimana masih ada kegiatan ngampus (mata kuliah materi), agak sayang rasanya kok cepat banget tiba-tiba waktunya sudah mendekati PPL, KKN, dan skripsi. Perasaan dulu baru masuk kuliah deh. Bakal kangen masa-masa kuliah bareng teman-teman.

Tapi bukan itu yang mau saya bahas disini. Postingan kali ini akan membahas tentang gigi. Kok gigi? Ya, saya baru sadar betapa pentingnya periksa ke dokter gigi. Berawal dari gigi kecil bagian depan saya yang patah, saya konsultasi ke dokter gigi di sekitar Unnes Semarang.

Setibanya di tempat tersebut saya disambut dengan dua orang dokter muda berhijab, begitu duduk dikursi periksa Bu Dokter langsung bertanya, “Sudah bengkak begitu ya?”. Mungkin gara-gara pipi saya yang chubby akibat libur panjang semester. Haha.

Setelah saya beri penjelasan, Bu Dokter memeriksa gigi saya. Kata Bu Dokter, “Ini gigimu kelebihan dua Dek.” Bu Dokter menyarankan untuk jangan memansang gigi palsu karena tidak efektif. Beliau lebih menyarankan untuk mencabut 2 gigi saya yang berukuran kecil lalu kemudian memasang ortho (kawat gigi) agar dapat merapatkan gigi supaya tidak renggang. Memang, ada 2 gigi susu yang seharusnya sudah diganti dengan gigi baru. Gigi yang seharusnya menggantikan gigi susu justru tumbuh disamping gigi susu dan saling berbenturan. Aneh kan.

Dari kecil, saya memang jarang sekali ke dokter gigi. Kalau gigi mau copot biasanya dicabut sendiri aja, kecuali kalau menambal gigi baru ke dokter gigi. Masa mau menambal sendiri pakai semen? Wkwkwk. Dokter gigi yang di Tegal yang merupakan Ibu dari teman sekelas SMA juga pernah bilang masalah gigi susu, tapi saya menunda-nunda terus. Karena kondisinya sedang mau UN dan keberadaan gigi susu tersebut tidak mempengaruhi kenyamanan.

Kembali lagi ke ruang praktek dokter, biaya yang harus dibayar adalah 2,5 juta rupiah. Sayapun menyetujuinya walaupun sempat berpikir sejenak karena cukup menguras tabungan. Bu Dokter bertanya, “Mau dicabut sekarang?”

Saya tidak langsung mengiyakan, dan bertanya balik. “Itu setelah dicabut langsung dipasang ortho (kawat gigi) atau bagaimana Dok?”.
Bu Dokter 1: “Gak Dek, giginya dicabut dulu terus dibiarkan 2 hari. Setelah itu baru dipasang orthonya.”
Saya: “Waduh, brarti kelihatan ompong ya Dok?”
Bu Dokter 1: “Ya, kalau belum dipasang kawat ya kelihatan Dek. Tapi kalau sudah dipasang ya gak terlalu kelihatan.”
Saya: “Kalau begitu, mending dicabutnya Hari Sabtu saja Dok biar Hari Senin pagi orthonya langsung dipasang. Hehe.” Kebetulan Hari Senin saya kuliah jam 1 siang, jadi aman.
Bu Dokter 2: “Wah, pinter milih harinya biar gak malu ya Dek berangkat kuliahnya.”
Saya: “Iya Bu. Hehe.”
Bu Dokter 1: “ Ya sudah, hari Sabtu pagi ke sini lagi saja. Nanti gigimu yang 2 itu dicabut. Bilang orang tua dulu.”

Setelah dijelaskan panjang lebar oleh Bu Dokter mengenai jadwal kontrol, biaya dan sebagainya, Bu Dokter membuatkan kartu dan sayapun pamit pulang.

Prosesnya ternyata ribet juga, 2 gigi harus dicabut dan didiamkan 2 hari terlebih dahulu baru kemudian dipasangi ortho. Berarti saya harus merelakan gigi saya terlihat ompong sementara. Katanya sih gigi baru bisa terlihat rapat paling cepat 6 bulan dan paling lambat 1 tahun. Dan juga harus merogoh kocek cukup dalam karena mengeluarkan biaya sebesar 2,5 juta rupiah. Ditambah saya harus melakukan kontrol tiap bulan dengan biaya tambahan tiap kontrol. Sepertinya kartu askes dari orang tua gak bisa dipakai untuk masalah ini. Lumayan juga sih, tapi kalau dibandingkan sama teman kos yang implant satu gigi bagian depan dan menghabiskan 7 juta dan teman yang pasang ortho (kawat gigi) atas bawah menghabiskan 5 juta rupiah saya masih sedikit beruntung.

Dari pengamatan saya, tempat dokter tersebut bukan tempat abal-abal. Karena disana jelas yang menangani dokter gigi, bukan tukang gigi. Dan di tempat yang abal-abal biaya yang ditawarkan biasanya di bawah atau sekitar 1 juta rupiah. Malah waktu saya bertanya kalau pasang ortho (kawat gigi) atas bawah biayanya 4 juta rupiah. Tapi kebutuhan masih banyak, awal semester belum beli buku dan lain-lain. Dan saya memutuskan hanya di atasnya saja yang dipasang. Lagipula gigi bagian bawah tidak ada masalah dan lumayan tidak berantakan. Hehe.

Tinggal siap-siap bersabar selama 1 tahun dengan gigi ompong berkawat sampai giginya rata. Untungnya gigi berkawat sudah tidak trend lagi sekarang, bisa-bisa dikira anak alay. Padahal ini untuk perawatan gigi. Hahahahaha.

Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar